Tugas Softskill : Ragam Bahasa Indonesia
Tugas Ke-1

Kata Pengantar

            Banyak orang berpendapat bahwa bahasa adalah warisan leluhur. Fakta ini memang benar. Kemudian,banyak yang menganggap bahwa para ahli waris dengan mudah menerima bahasa (seperi warisan lain,misalnya tanah,harta ,atau benda lain) dari para leluhur dan menggunakannya tanpa harus susah payah mempelajari terlebih dahulu. Fakta ini keliru.
            Bahasa tidak bisa ditransferkan oleh generasi tua ke generasi muda secara otomatis. Karena,bahasa apa pun harus dipelajari generasi muda lewat ajaran dan bimbingan dari generasi tua. Meski,proses pengajarannya tidak harus dilaksanakn secara formal. Dalam literatur tengtang teori pendidikan bahasa ada dua istilah kunci untuk menggambarkan proses belajar bahasa. Yakni, proses acquistion (pemerolehan) dan proses learning (pembelajaran).
            Pemorolehan menggambarkan proses belajar ketika orang yang sedang belajar bahasa merasa perlu memperoleh dan menggunakan bahasa itu. Dengan demikian, dia akan mempunyai motivasi  amat kuat untuk memperoleh dan menggunakan bahasa itu sebagai sarana komunikasi rill dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain,bahasa dianggap sebagai salah satu faset penting dari kehidupan sosial budaya. Apabila orang yang belajar itu masih usia dini, dia tidak akan merasakan proses belajar bahasa secara sadar karena pelaksanaan dilakukan secara informal. Bahkan, seolah-olah,dia tidak merasa belajar sama sekali tetapi memperoleh (atau barangkali,lebih tepat, menghayati) bahasa yang sedang dipelajarinya itu. Disamping itu, bahasa yang harus dipelajari tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai wahana yang menampung nilai sosial, norma, budaya, etiket perilaku, dan aneka macam kompentensi diskursif lain.







Dafatar Isi
Kata    Pengantar                                                                                                                        1
Daftar Isi                                                                                                                                     2
BAB 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang                                                                                                         3
1.2 Rumusan Masalah                                                                                                    4
1.3 Tujuan                                                                                                                       5

BAB 2 Isi
            Pengertian Ragam Bahasa                                                                                              6
            1.      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan  media                                                      7
            2.      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur                             11
            3.      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan                                  11
BAB 3 Kesimpulan dan Saran
1.1               Kesimpulan                                                                                                       13
1.2               Saran                                                                                                                 13
1.3               Daftar Pustaka                                                                                                  14











Bab 1
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Asal-usul Bahasa : Mitos dan Realitas
Masyarakat kebanyakan yang hidup di dataran Eropa mempunyai sebuah mitos tentang asal-usul bahasa di dunia. Mereka mengenal mitos itu dari sebuah cerita dalam alkitab Perjanjian Lama, berjudul “Menara Babel”. Pendek kata , menurut kisah dalam kitab it, pada zaman dahulu masyarakat yang makmur dan kaya raya membuat proyek untuk mendirikan sebuah menara tinggi menjulang kelangit biru agar memudahkan warga mencapai surga dari kota Babel. Pada zaman dahulu itu, kebanyakan orang berpendapat bahwa secara harfiah, surga berada diatas langit. Manusia pun berusaha dengan berbagai cara membuat sarana, bhakan berhala, beerupa aneka macam benda agar dangan cepat dapat membawa mereka menuju ke surga.
Menurut pendapat Haugen (1974), dalam artikel berjudul “ The Curse of Babel (Kutukan Babel)”, konon kata babel berasal dari kata baalal. Adpun, menurut Fromkin dan Rodman (1978 : 12), babel berasal dari baibel, sebuauh kata daam bahasa Hibrani. Baik baalal maupun baibel berarti “kebingungan” atau “kekacauan”. Dari makna kata baalal itu, Haugen menyimpulkan bahwa “kekacauan” membuat sebuah masyarakat linguistik yang tinggal disuatu tempat tertentu tercerai berai, berpindah ke berbagi penjuru dunia. Akibatnya, wrga masyarakat yangg semula akrab menjadi asing dan tidak saling memahami. Bhasa srta tingkah laku sosial sesama warga yang telah bermukim di berbagai daerah lain pun sulit dipahami oleh sesama warga dari daerah asal yang sama.
Dengan kata lain, Haugenjukan mengajukan hipotesis bahawa bahasa manuasia akan berubah apabila para penutur secara geografis terpisah dari kelompok induk. Sebaliknya, selama para penutur tinggal disuatu tempat, mereka cenderung mempertahankan bahasa yang sama. Karena itu,haugen berpendapat bahwa sebagai mitos kisah Menara Babel berbeda dari realitas fakta linguistik. Lepas dari benar atau tidak pendapat Haugen, mitos dalam kisah Menara Babel memberikan informasi bahwa kebanyakan orang beranggapan semua bahsa di dunia ini berasal dari satu sumber. Anggapan serupa ini tidak hanya muncul didaratan eropa, tetapi di Benua Amerika. Kisah serupa bisa didengar dalam legenda Toltecs yang dikemukakan Ixtlilxochitl, ahli sejarah asli India Meksiko.
Menurut studi lingistik,anggapan bahwa aneka bahasa itu berasal dari satu sumber disebut sebagai pendapat yang mengikuti teori monogenesis. Itu lawan teori poligenesis, yang berarti banyak atau lebih dari satu sumber bahsa induk. Entah apa sbabnya, banyak orang cenderung mempercanyai teori monogenesis. Mungkin karena nenek moyang atau gnerasi dahulu hidup sangat religius, sehingga tidak mustail apabila mereka selalu mewariskan ajaran bahwa asal-usul manuasia dan asal-usul bahasa adalah sama. Karena itulah, apabila kisah Adam dan Hawa mudah dipercanyai orang,kisah tentang aslausul bahasa yang monogenesis akan gampang dipercanyai pula, kecuali bila semua orang percaya bahawa Adam tak pernah berkomunoikasi dengan Hawa.

1.2      Rumusan Masalah
Mitos asal-usul bahasa berlawanan dengan realitas penyebaran bahasa. Mitos itu statis dan diterima begitu saja. Adapun realitas linguistik dinamis. Dalam arti,sesuai dengan kurun waktu dan tempat serta terbuka bagi penalaran yang skeptis. Kebenarannya bisa digugat dan dipertanyakan terus menerus, dilengkapi dengan argumen kuat,jelas,dan masuk akal. Tidak bisa dipecaya begitu saja seperti mitos. Namun mitos terlanjur mempengaruhi proposisi sehingga membuat semua orang lebih percaya pada teori asal-usul bahasa yang bersifat monogenesis.
Dalam bab-bab setelah ini, kita berbicara soal rekayasa bahasa berdasarkan realitas linguistik dengan melihat kasus bahasa Indonesia. Walau masih dipengaruhimitos asal-usul monogenesis, pembicaraan tentang perkembangan searah bahasa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari aneka faktor, terutama faktor kontak antara bahasa Melayu dan bahasa asing atau bahasa daerah lain yang hidup berdampingan dengannya. Dengan kata lain, kisah kelahiran bahasa indonesia merupakan kasus linguistik yang menarik bila ditinjau dari proposisi monogenesis dan dipadukan dengan aneka faktor yang mendukung usaha rekayasa berdasarkan realitas linguistik dinegeri ini.



1.3 Tujuan
embuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ragam bahasa serta macam-macam ragam dalam bahasa ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa.



















Bab 2
Pembahasan

Pengertian Ragam Bahasa
          Dalam studi sosiolinguistik dan atau linguistik edukasional ada spesialisasi yang mengamati masalah perencanaan bahasa. Studi khusus ini dalam padanan bahasa Inggris disebut language planning. Haugen (1983) merumuskannya sebagai usaha mengatur arah perkembangan bahasa ketujuan yamng diinginkan para perencana. Dengan demikian, peranan para perencana bahasa sangat penting. Mereka bisa mengarahkan ketujuan yang positif, yakni mengembangkan bahasa seperti terjadi di Indonesia,. Sebaliknya bisa pula ke arah negatif, yakni menghambat perkembnagan bahasa seperti terjadi dengan bahasa Catalan di Catalonia dan Valencia,Spayol. Sesuai dengan keadaan di Indonesia, dalam bab ini kami membicarakan perencanaan bahasa yang posistif.
            Untuk meraih tujuan posistif, para perencana harus melaksanakan usaha pengembangan dan pembinaan. Karena itu usaha perencanaan bahasa sering disebut pula usaha pengembangan bahasa (Garvin 1974). Pekerjaan yang mirip dengan usaha rekayasa ini memunculkan istlah lain bagi perancanaan bahasa, yakni language engineering. Istlah tekhir ini sering dipakai Alisjahbana manakala menulis dalam bahasa Inggris. Dan, dalam bidang rekayasa bahasa ini Alisjahbana merupakan tokoh penting, terutama di Indonesia.
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa terdiri dari:
(1)   Ragam bahasa lisan
(2)   Ragam bahasa tulis

Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.

Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu berdasarkan media, berdasarkan cara pandang penutur dan berdasarkan topik pembicaraan.

1.      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media
·         Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.  Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.

Ciri-ciri ragam lisan:
a.       Memerlukan orang kedua/teman bicara;
b.      Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
c.       Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
d.      Berlangsung cepat;
e.       Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
f.       Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
g.      Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.

Contoh ragam lisan adalah ‘Sudah saya baca buku itu.’

·         Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.

Ciri-ciri ragam tulis :
1.      Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;
2.      Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
3.      Harus memperhatikan unsur gramatikal;
4.      Berlangsung lambat;
5.      Selalu memakai alat bantu;
6.      Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
7.      Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.

Contoh ragam tulis adalah ’Saya sudah membaca buku itu.
Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata):

o   Tata Bahasa
(Bentuk kata, Tata Bahasa, Struktur Kalimat, Kosa Kata)
a.        Ragam bahasa lisan:
-          Nia sedang baca surat kabar
-          Ari mau nulis surat
-          Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.
-          Mereka tinggal di Menteng.
-          Jalan layang itu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
-          Saya akan tanyakan soal itu
b.      Ragam bahasa tulis:
-          Nia sedangmembaca surat kabar
-          Ari mau menulis surat
-          Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
-          Mereka bertempat tinggal di Menteng
-          Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
-          Akan saya tanyakan soal itu.

o   Kosa kata
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata:
a.        Ragam Lisan
-          Ariani bilang kalau kita harus belajar
-          Kita harus bikin karya tulis
-          Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak

b.       Ragam Tulis
-          Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar
-          Kita harus membuat karya tulis.
-          Rasanya masih terlalu muda bagi saya, Pak.

Istilah lain yang digunakan selain ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar, semi standar dan nonstandar. Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modem (Alwi, 1998: 14).
Pembedaan antara ragam standar, nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan:
b.       Topik yang sedang dibahas,
c.        Hubungan antarpembicara,
d.       Medium yang digunakan,
e.        Lingkungan, atau
f.        Situasi saat pembicaraan terjadi

Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar dan nonstandard adalah sebagai berikut:
·         Penggunaan kata sapaan dan kata ganti,
·         Penggunaan kata tertentu,
·         Penggunaan imbuhan,
·         Penggunaan kata sambung (konjungsi), dan
·         Penggunaan fungsi yang lengkap.

Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri kita, dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam nonstandar, kita akan menggunakan kata gue.
Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standar dan ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain. Dalam ragam standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti.
Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan ciri pembeda lain. Dalam ragam nonstandar, sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan. Kadang kala, kenyataan ini mengganggu kejelasan kalimat.
Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya, ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat kalimat dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang. Misalnya, Hai, Ida, mau ke mana?” “Pulang.” Sering kali juga kita menjawab “Tau.” untuk menyatakan ‘tidak tahu’. Sebenarnya, pëmbedaan lain, yang juga muncul, tetapi tidak disebutkan di atas adalah Intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.

2.      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur
Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa Indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi.

Contoh ragam dialek adalah ‘Gue udah baca itu buku.’
Contoh ragam terpelajar adalah ‘Saya sudah membaca buku itu.’
Contoh ragam resmi adalah ‘Saya sudah membaca buku itu.’
Contoh ragam tak resmi adalah ‘Saya sudah baca buku itu.’                

3.      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.

Ciri-ciri ragam ilmiah:
1.      Bahasa Indonesia ragam baku;
2.      Penggunaan kalimat efektif;
3.      Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;
4.      Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
5.      Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
6.      Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.

Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:
1.        Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
2.        Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
3.         Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
4.        Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
5.        Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)

Ragam bahasa baku dapat berupa: ragam bahasa baku tulis dan ragam bahasa baku lisan.
Menurut Ciri Situasi Keidiologisan :
Ragam Tinggi (Bahasa Indonesia yang baku/ragam ilmiah) Dalam kehidupan sosial dan sehari-hari masyarakat Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan, digunakan berbagai bahasa daerah termasuk dialeknya, bahasa Indonesia, dan/atau bahasa asing. Bahkan, dalam situasi tertentu, seperti dalam keluarga perkawinan campuran digunakan pula bahasa yang bersifat campuran, yaitu campuran antara bahasa Indonesia dan salah satu atau kedua bahasa ibu pasangan perkawinan campuran itu. Dalam situasi kebahasaan seperti itu, timbul berbagai ragam atau variasi bahasa sesuai dengan keperluannya, baik secara lisan maupun tulisan. Timbulnya ragam bahasa tersebut disebabkan oleh latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan bahasa para pemakainya itu. Yang dimaksud dengan ragam atau variasi bahasa adalah bentuk atau wujud bahasa yang ditandai oleh ciri-ciri linguistik tertentu, seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis. Di samping ditandai oleh cirri-ciri linguistik, timbulnya ragam bahasa juga ditandai oleh cirri-ciri nonlinguistic, misalnya, lokasi atau tempat penggunaannya, lingkungan sosial pemakaiannya, dan lingkungan keprofesian pemakai bahasa yang bersangkutan. 













BAB 3
Kesimpulan dan Saran

A.    Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan bahasa baku tulis.
Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah Disempurnakan (EYD), sedangkan untuk ragam bahasa lisan diharapkan para warga negara Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan sebagaimana pedoman yang ada.


B.  Saran
1.      Gunakan bahasa indonesia yang baik, terlebih lagi pada era sekarang banyak sekali bahasa yang tidak sesuai dengan kamus Indonesia dan tidak sesuai dengan aturan EYD, seperti bahasa gaul anak muda sekarang.
2.      Pelajari bahasa Indonesia secara baik dan benar.
3.      Bekali pemahaman bahasa yang digunakan untuk sehari-sehari.
4.      Pengucapan ejaan kalimat seharusnya di sesuaikan dengan kamus Bahasa Indonesia.










Daftar Pustaka


Alisjahbana, S. Takdir, 1962, Indonesia Language and Literature : Two Essays. Cultural Report Series No.11. new Haven: Yale University.

Alisjahbana, S. Takdir, 1974, Language Policy, Language  Enggineering and Literacy in Indonesia and Malaysia” dalam Advaces in Language Planning , diedit Joshua Fishman , The Hague: Moouton, halaman 391-416.

Alisjahbana, S. Takdir, 1976 , Language Planning and Modernization: The Case of Indonesian and Malaysia, The Hague : Mouton.

Siregar, Bakri,1964, Sedjarah Sastra Indonesia Modern,Djakarta : Akademi Sastera dan Bahasa Multatuli.











Komentar

Postingan populer dari blog ini

EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)

PERENCANAAN PENULISAN ILMIAH