Tugas Softskill : Ragam Bahasa Indonesia
Tugas Ke-1
Kata Pengantar
Banyak orang berpendapat bahwa
bahasa adalah warisan leluhur. Fakta ini memang benar. Kemudian,banyak yang
menganggap bahwa para ahli waris dengan mudah menerima bahasa (seperi warisan
lain,misalnya tanah,harta ,atau benda lain) dari para leluhur dan
menggunakannya tanpa harus susah payah mempelajari terlebih dahulu. Fakta ini
keliru.
Bahasa tidak bisa ditransferkan oleh
generasi tua ke generasi muda secara otomatis. Karena,bahasa apa pun harus
dipelajari generasi muda lewat ajaran dan bimbingan dari generasi tua.
Meski,proses pengajarannya tidak harus dilaksanakn secara formal. Dalam
literatur tengtang teori pendidikan bahasa ada dua istilah kunci untuk
menggambarkan proses belajar bahasa. Yakni, proses acquistion (pemerolehan) dan
proses learning (pembelajaran).
Pemorolehan menggambarkan proses
belajar ketika orang yang sedang belajar bahasa merasa perlu memperoleh dan
menggunakan bahasa itu. Dengan demikian, dia akan mempunyai motivasi amat kuat untuk memperoleh dan menggunakan
bahasa itu sebagai sarana komunikasi rill dalam hidup sehari-hari. Dengan kata
lain,bahasa dianggap sebagai salah satu faset penting dari kehidupan sosial
budaya. Apabila orang yang belajar itu masih usia dini, dia tidak akan
merasakan proses belajar bahasa secara sadar karena pelaksanaan dilakukan
secara informal. Bahkan, seolah-olah,dia tidak merasa belajar sama sekali
tetapi memperoleh (atau barangkali,lebih tepat, menghayati) bahasa yang sedang
dipelajarinya itu. Disamping itu, bahasa yang harus dipelajari tidak hanya
digunakan sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai wahana yang menampung
nilai sosial, norma, budaya, etiket perilaku, dan aneka macam kompentensi
diskursif lain.
Dafatar
Isi
Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
BAB 1 Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
3
1.2 Rumusan Masalah
4
1.3 Tujuan
5
BAB 2 Isi
Pengertian Ragam Bahasa 6
1.
Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media
7
2.
Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur 11
3. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik
pembicaraan 11
BAB 3 Kesimpulan dan Saran
1.1
Kesimpulan
13
1.2
Saran 13
1.3
Daftar Pustaka
14
Bab 1
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Asal-usul
Bahasa : Mitos dan Realitas
Masyarakat
kebanyakan yang hidup di dataran Eropa mempunyai sebuah mitos tentang asal-usul
bahasa di dunia. Mereka mengenal mitos itu dari sebuah cerita dalam alkitab
Perjanjian Lama, berjudul “Menara Babel”. Pendek kata , menurut kisah dalam
kitab it, pada zaman dahulu masyarakat yang makmur dan kaya raya membuat proyek
untuk mendirikan sebuah menara tinggi menjulang kelangit biru agar memudahkan
warga mencapai surga dari kota Babel. Pada zaman dahulu itu, kebanyakan orang
berpendapat bahwa secara harfiah, surga berada diatas langit. Manusia pun
berusaha dengan berbagai cara membuat sarana, bhakan berhala, beerupa aneka
macam benda agar dangan cepat dapat membawa mereka menuju ke surga.
Menurut
pendapat Haugen (1974), dalam artikel berjudul “ The Curse of Babel (Kutukan
Babel)”, konon kata babel berasal dari kata baalal. Adpun, menurut Fromkin dan
Rodman (1978 : 12), babel berasal dari baibel, sebuauh kata daam bahasa
Hibrani. Baik baalal maupun baibel berarti “kebingungan” atau “kekacauan”. Dari
makna kata baalal itu, Haugen menyimpulkan bahwa “kekacauan” membuat sebuah
masyarakat linguistik yang tinggal disuatu tempat tertentu tercerai berai,
berpindah ke berbagi penjuru dunia. Akibatnya, wrga masyarakat yangg semula
akrab menjadi asing dan tidak saling memahami. Bhasa srta tingkah laku sosial
sesama warga yang telah bermukim di berbagai daerah lain pun sulit dipahami
oleh sesama warga dari daerah asal yang sama.
Dengan
kata lain, Haugenjukan mengajukan hipotesis bahawa bahasa manuasia akan berubah
apabila para penutur secara geografis terpisah dari kelompok induk. Sebaliknya,
selama para penutur tinggal disuatu tempat, mereka cenderung mempertahankan
bahasa yang sama. Karena itu,haugen berpendapat bahwa sebagai mitos kisah
Menara Babel berbeda dari realitas fakta linguistik. Lepas dari benar atau
tidak pendapat Haugen, mitos dalam kisah Menara Babel memberikan informasi
bahwa kebanyakan orang beranggapan semua bahsa di dunia ini berasal dari satu
sumber. Anggapan serupa ini tidak hanya muncul didaratan eropa, tetapi di Benua
Amerika. Kisah serupa bisa didengar dalam legenda Toltecs yang dikemukakan
Ixtlilxochitl, ahli sejarah asli India Meksiko.
Menurut
studi lingistik,anggapan bahwa aneka bahasa itu berasal dari satu sumber
disebut sebagai pendapat yang mengikuti teori monogenesis. Itu lawan teori
poligenesis, yang berarti banyak atau lebih dari satu sumber bahsa induk. Entah
apa sbabnya, banyak orang cenderung mempercanyai teori monogenesis. Mungkin
karena nenek moyang atau gnerasi dahulu hidup sangat religius, sehingga tidak mustail
apabila mereka selalu mewariskan ajaran bahwa asal-usul manuasia dan asal-usul
bahasa adalah sama. Karena itulah, apabila kisah Adam dan Hawa mudah
dipercanyai orang,kisah tentang aslausul bahasa yang monogenesis akan gampang
dipercanyai pula, kecuali bila semua orang percaya bahawa Adam tak pernah
berkomunoikasi dengan Hawa.
1.2
Rumusan Masalah
Mitos
asal-usul bahasa berlawanan dengan realitas penyebaran bahasa. Mitos itu statis
dan diterima begitu saja. Adapun realitas linguistik dinamis. Dalam arti,sesuai
dengan kurun waktu dan tempat serta terbuka bagi penalaran yang skeptis.
Kebenarannya bisa digugat dan dipertanyakan terus menerus, dilengkapi dengan
argumen kuat,jelas,dan masuk akal. Tidak bisa dipecaya begitu saja seperti
mitos. Namun mitos terlanjur mempengaruhi proposisi sehingga membuat semua
orang lebih percaya pada teori asal-usul bahasa yang bersifat monogenesis.
Dalam
bab-bab setelah ini, kita berbicara soal rekayasa bahasa berdasarkan realitas
linguistik dengan melihat kasus bahasa Indonesia. Walau masih dipengaruhimitos
asal-usul monogenesis, pembicaraan tentang perkembangan searah bahasa Indonesia
tidak bisa dilepaskan dari aneka faktor, terutama faktor kontak antara bahasa
Melayu dan bahasa asing atau bahasa daerah lain yang hidup berdampingan
dengannya. Dengan kata lain, kisah kelahiran bahasa indonesia merupakan kasus
linguistik yang menarik bila ditinjau dari proposisi monogenesis dan dipadukan
dengan aneka faktor yang mendukung usaha rekayasa berdasarkan realitas
linguistik dinegeri ini.
1.3
Tujuan
embuatan makalah ini bertujuan untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan ragam bahasa serta macam-macam ragam dalam
bahasa ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan
bahasa.
Bab 2
Pembahasan
Pengertian Ragam Bahasa
Dalam studi
sosiolinguistik dan atau linguistik edukasional ada spesialisasi yang mengamati
masalah perencanaan bahasa. Studi khusus ini dalam padanan bahasa Inggris
disebut language planning. Haugen (1983) merumuskannya sebagai usaha mengatur
arah perkembangan bahasa ketujuan yamng diinginkan para perencana. Dengan
demikian, peranan para perencana bahasa sangat penting. Mereka bisa mengarahkan
ketujuan yang positif, yakni mengembangkan bahasa seperti terjadi di
Indonesia,. Sebaliknya bisa pula ke arah negatif, yakni menghambat perkembnagan
bahasa seperti terjadi dengan bahasa Catalan di Catalonia dan Valencia,Spayol.
Sesuai dengan keadaan di Indonesia, dalam bab ini kami membicarakan perencanaan
bahasa yang posistif.
Untuk meraih tujuan posistif, para
perencana harus melaksanakan usaha pengembangan dan pembinaan. Karena itu usaha
perencanaan bahasa sering disebut pula usaha pengembangan bahasa (Garvin 1974).
Pekerjaan yang mirip dengan usaha rekayasa ini memunculkan istlah lain bagi
perancanaan bahasa, yakni language engineering. Istlah tekhir ini sering
dipakai Alisjahbana manakala menulis dalam bahasa Inggris. Dan, dalam bidang
rekayasa bahasa ini Alisjahbana merupakan tokoh penting, terutama di Indonesia.
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa
menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut
hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium
pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai
ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan
terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam
suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut
ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9),
bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok,
yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti
di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.
Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita
tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
Ditinjau dari media atau sarana yang
digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa terdiri dari:
(1) Ragam bahasa lisan
(2) Ragam bahasa tulis
Bahasa yang dihasilkan melalui alat
ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam
bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan
dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam
ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis,
kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa
dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam
bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh
karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama.
Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa
yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula
kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata,
masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang
lain.
Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat
dibagi menjadi 3 jenis yaitu berdasarkan media, berdasarkan cara pandang
penutur dan berdasarkan topik pembicaraan.
1. Ragam Bahasa
Indonesia berdasarkan media
·
Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung
oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat.
Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan
dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam
kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan
dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung
di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicaraan lisan dalam situasi
formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi
tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu
tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam
lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang
dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun
direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat
dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis
dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.
Ciri-ciri ragam lisan:
a. Memerlukan
orang kedua/teman bicara;
b. Tergantung
situasi, kondisi, ruang & waktu;
c. Tidak harus
memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
d. Berlangsung
cepat;
e. Sering dapat
berlangsung tanpa alat bantu;
f. Kesalahan dapat
langsung dikoreksi;
g. Dapat dibantu
dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
Contoh ragam lisan adalah ‘Sudah saya baca buku itu.’
·
Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku
tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian,
sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang
oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat.
Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan
dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk
kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam
struktur kalimat.
Ciri-ciri ragam tulis :
1. Tidak
memerlukan orang kedua/teman bicara;
2. Tidak
tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
3. Harus
memperhatikan unsur gramatikal;
4. Berlangsung
lambat;
5. Selalu memakai
alat bantu;
6. Kesalahan tidak
dapat langsung dikoreksi;
7. Tidak dapat
dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
Contoh ragam tulis adalah ’Saya sudah
membaca buku itu.
Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa
tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata):
o
Tata Bahasa
(Bentuk kata, Tata Bahasa, Struktur
Kalimat, Kosa Kata)
a. Ragam bahasa
lisan:
-
Nia sedang
baca surat kabar
-
Ari mau
nulis surat
-
Tapi kau tak
boleh nolak lamaran itu.
-
Mereka
tinggal di Menteng.
-
Jalan layang
itu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
-
Saya akan
tanyakan soal itu
b. Ragam bahasa
tulis:
-
Nia
sedangmembaca surat kabar
-
Ari mau
menulis surat
-
Namun,
engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
-
Mereka
bertempat tinggal di Menteng
-
Jalan layang
itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
-
Akan saya
tanyakan soal itu.
o
Kosa kata
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata:
a. Ragam Lisan
-
Ariani
bilang kalau kita harus belajar
-
Kita harus
bikin karya tulis
-
Rasanya
masih terlalu pagi buat saya, Pak
b. Ragam Tulis
-
Ariani
mengatakan bahwa kita harus belajar
-
Kita harus
membuat karya tulis.
-
Rasanya
masih terlalu muda bagi saya, Pak.
Istilah lain yang digunakan selain
ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar, semi standar dan nonstandar.
Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap.
Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes
sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta
mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan
modem (Alwi, 1998: 14).
Pembedaan antara ragam standar,
nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan:
b.
Topik yang
sedang dibahas,
c.
Hubungan
antarpembicara,
d.
Medium yang
digunakan,
e.
Lingkungan,
atau
f.
Situasi saat
pembicaraan terjadi
Ciri yang membedakan antara ragam
standar, semi standar dan nonstandard adalah sebagai berikut:
·
Penggunaan
kata sapaan dan kata ganti,
·
Penggunaan
kata tertentu,
·
Penggunaan
imbuhan,
·
Penggunaan
kata sambung (konjungsi), dan
·
Penggunaan
fungsi yang lengkap.
Penggunaan kata sapaan dan kata
ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam nonstandar yang sangat
menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan
menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri
kita, dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam
ragam nonstandar, kita akan menggunakan kata gue.
Penggunaan kata tertentu merupakan
ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standar dan ragam nonstandar.
Dalam ragam standar, digunakan kata-kata yang merupakan bentuk baku atau
istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain. Dalam
ragam standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti.
Penggunaan kata sambung (konjungsi)
dan kata depan (preposisi) merupakan ciri pembeda lain. Dalam ragam nonstandar,
sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan. Kadang kala, kenyataan ini
mengganggu kejelasan kalimat.
Kelengkapan fungsi merupakan ciri
terakhir yang membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya, ada bagian
dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung
pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat kalimat
dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan
orang. Misalnya, Hai, Ida, mau ke mana?” “Pulang.” Sering kali juga kita
menjawab “Tau.” untuk menyatakan ‘tidak tahu’. Sebenarnya,
pëmbedaan lain, yang juga muncul, tetapi tidak disebutkan di atas adalah
Intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan
dan tidak terwujud dalam ragam tulis.
2. Ragam Bahasa
Indonesia berdasarkan cara pandang penutur
Berdasarkan cara pandang penutur,
ragam bahasa Indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi
dan ragam tak resmi.
Contoh ragam dialek adalah ‘Gue udah baca itu buku.’
Contoh ragam terpelajar adalah ‘Saya sudah membaca
buku itu.’
Contoh ragam resmi adalah ‘Saya sudah membaca buku
itu.’
Contoh ragam tak resmi adalah ‘Saya sudah baca buku
itu.’
3. Ragam Bahasa
Indonesia berdasarkan topik pembicaraan
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam
bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam
agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.
Ciri-ciri ragam ilmiah:
1. Bahasa
Indonesia ragam baku;
2. Penggunaan
kalimat efektif;
3. Menghindari
bentuk bahasa yang bermakna ganda;
4. Penggunaan kata
dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang
bermakna kias;
5. Menghindari
penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
6. Adanya
keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.
Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:
1.
Dia dihukum
karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
2.
Setiap
pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
3.
Cerita itu
menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
4.
Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam
kedokteran)
5.
Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang
intensif. (ragam psikologi)
Ragam bahasa baku dapat berupa: ragam bahasa baku
tulis dan ragam bahasa baku lisan.
Menurut Ciri Situasi Keidiologisan :
Ragam Tinggi (Bahasa Indonesia yang baku/ragam ilmiah)
Dalam kehidupan sosial dan sehari-hari masyarakat Indonesia, baik secara lisan
maupun tulisan, digunakan berbagai bahasa daerah termasuk dialeknya, bahasa
Indonesia, dan/atau bahasa asing. Bahkan, dalam situasi tertentu, seperti dalam
keluarga perkawinan campuran digunakan pula bahasa yang bersifat campuran,
yaitu campuran antara bahasa Indonesia dan salah satu atau kedua bahasa ibu
pasangan perkawinan campuran itu. Dalam situasi kebahasaan seperti itu, timbul
berbagai ragam atau variasi bahasa sesuai dengan keperluannya, baik secara
lisan maupun tulisan. Timbulnya ragam bahasa tersebut disebabkan oleh latar
belakang sosial, budaya, pendidikan, dan bahasa para pemakainya itu. Yang
dimaksud dengan ragam atau variasi bahasa adalah bentuk atau wujud bahasa yang
ditandai oleh ciri-ciri linguistik tertentu, seperti fonologi, morfologi, dan
sintaksis. Di samping ditandai oleh cirri-ciri linguistik, timbulnya ragam
bahasa juga ditandai oleh cirri-ciri nonlinguistic, misalnya, lokasi atau
tempat penggunaannya, lingkungan sosial pemakaiannya, dan lingkungan
keprofesian pemakai bahasa yang bersangkutan.
BAB 3
Kesimpulan
dan Saran
A. Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa
menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut
hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium
pembicara. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan bahasa baku
tulis.
Pada ragam bahasa baku tulis
diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah Disempurnakan (EYD), sedangkan untuk
ragam bahasa lisan diharapkan para warga negara Indonesia mampu mengucapkan dan
memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan sebagaimana
pedoman yang ada.
B. Saran
1. Gunakan
bahasa indonesia yang baik, terlebih lagi pada era sekarang banyak sekali
bahasa yang tidak sesuai dengan kamus Indonesia dan tidak sesuai dengan aturan
EYD, seperti bahasa gaul anak muda sekarang.
2. Pelajari bahasa
Indonesia secara baik dan benar.
3. Bekali pemahaman
bahasa yang digunakan untuk sehari-sehari.
4. Pengucapan ejaan
kalimat seharusnya di sesuaikan dengan kamus Bahasa Indonesia.
Daftar
Pustaka
Alisjahbana, S. Takdir, 1962,
Indonesia Language and Literature : Two Essays. Cultural Report Series No.11.
new Haven: Yale University.
Alisjahbana, S. Takdir, 1974, Language
Policy, Language Enggineering and
Literacy in Indonesia and Malaysia” dalam Advaces in Language Planning , diedit
Joshua Fishman , The Hague: Moouton, halaman 391-416.
Alisjahbana, S. Takdir, 1976 , Language
Planning and Modernization: The Case of Indonesian and Malaysia, The Hague :
Mouton.
Siregar, Bakri,1964, Sedjarah Sastra
Indonesia Modern,Djakarta : Akademi Sastera dan Bahasa Multatuli.
Komentar
Posting Komentar