EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
Judul
: EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
Tugas : ke-2
Kata Pengantar
Banyak orang berpendapat bahwa bahasa adalah warisan leluhur. Fakta ini memang
benar. Kemudian,banyak yang menganggap bahwa para ahli waris dengan mudah
menerima bahasa (seperi warisan lain,misalnya tanah,harta ,atau benda lain)
dari para leluhur dan menggunakannya tanpa harus susah payah mempelajari
terlebih dahulu. Fakta ini keliru.
Bahasa tidak bisa ditransferkan oleh generasi tua ke generasi muda secara otomatis.
Karena,bahasa apa pun harus dipelajari generasi muda lewat ajaran dan bimbingan
dari generasi tua. Meski,proses pengajarannya tidak harus dilaksanakn secara
formal. Dalam literatur tengtang teori pendidikan bahasa ada dua istilah kunci
untuk menggambarkan proses belajar bahasa. Yakni, proses acquistion
(pemerolehan) dan proses learning (pembelajaran).
Pemorolehan menggambarkan proses belajar ketika orang yang sedang belajar
bahasa merasa perlu memperoleh dan menggunakan bahasa itu. Dengan demikian, dia
akan mempunyai motivasi amat kuat untuk memperoleh dan menggunakan bahasa
itu sebagai sarana komunikasi rill dalam hidup sehari-hari. Dengan kata
lain,bahasa dianggap sebagai salah satu faset penting dari kehidupan sosial
budaya. Apabila orang yang belajar itu masih usia dini, dia tidak akan
merasakan proses belajar bahasa secara sadar karena pelaksanaan dilakukan
secara informal. Bahkan, seolah-olah,dia tidak merasa belajar sama sekali
tetapi memperoleh (atau barangkali,lebih tepat, menghayati) bahasa yang sedang
dipelajarinya itu. Disamping itu, bahasa yang harus dipelajari tidak hanya
digunakan sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai wahana yang menampung
nilai sosial, norma, budaya, etiket perilaku, dan aneka macam kompentensi diskursif
lain.
Dafatar Isi
Kata Pengantar
1
Daftar Isi
2
BAB 1 Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang
3
1.2 Rumusan
Masalah
4
1.3
Tujuan
5
BAB 2 Isi
A. Ucapan
6
B. Ejaan
1. Pengantar
6
2. Penulisan Huruf
a. Penulisan Huruf Kapital
7
b.
Huruf Tebal dan Miring
9
3. Penulisan Partikel dan
Awalan
10
4. Penulisan Bilangan
12
5. Tanda Baca 13
BAB 3
Kesimpulan dan Saran
1.1
Kesimpulan
22
1.2
Saran
23
1.3
Daftar
Pustaka
24
Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang
Asal-usul
Bahasa : Mitos dan Realitas
Masyarakat
kebanyakan yang hidup di dataran Eropa mempunyai sebuah mitos tentang asal-usul
bahasa di dunia. Mereka mengenal mitos itu dari sebuah cerita dalam alkitab
Perjanjian Lama, berjudul “Menara Babel”. Pendek kata , menurut kisah dalam
kitab it, pada zaman dahulu masyarakat yang makmur dan kaya raya membuat proyek
untuk mendirikan sebuah menara tinggi menjulang kelangit biru agar memudahkan
warga mencapai surga dari kota Babel. Pada zaman dahulu itu, kebanyakan orang
berpendapat bahwa secara harfiah, surga berada diatas langit. Manusia pun
berusaha dengan berbagai cara membuat sarana, bhakan berhala, beerupa aneka
macam benda agar dangan cepat dapat membawa mereka menuju ke surga.
Menurut
pendapat Haugen (1974), dalam artikel berjudul “ The Curse of Babel (Kutukan
Babel)”, konon kata babel berasal dari kata baalal. Adpun, menurut Fromkin dan
Rodman (1978 : 12), babel berasal dari baibel, sebuauh kata daam bahasa
Hibrani. Baik baalal maupun baibel berarti “kebingungan” atau “kekacauan”. Dari
makna kata baalal itu, Haugen menyimpulkan bahwa “kekacauan” membuat sebuah
masyarakat linguistik yang tinggal disuatu tempat tertentu tercerai berai,
berpindah ke berbagi penjuru dunia. Akibatnya, wrga masyarakat yangg semula
akrab menjadi asing dan tidak saling memahami. Bhasa srta tingkah laku sosial
sesama warga yang telah bermukim di berbagai daerah lain pun sulit dipahami
oleh sesama warga dari daerah asal yang sama.
Dengan kata
lain, Haugenjukan mengajukan hipotesis bahawa bahasa manuasia akan berubah
apabila para penutur secara geografis terpisah dari kelompok induk. Sebaliknya,
selama para penutur tinggal disuatu tempat, mereka cenderung mempertahankan
bahasa yang sama. Karena itu,haugen berpendapat bahwa sebagai mitos kisah
Menara Babel berbeda dari realitas fakta linguistik. Lepas dari benar atau
tidak pendapat Haugen, mitos dalam kisah Menara Babel memberikan informasi
bahwa kebanyakan orang beranggapan semua bahsa di dunia ini berasal dari satu
sumber. Anggapan serupa ini tidak hanya muncul didaratan eropa, tetapi di Benua
Amerika. Kisah serupa bisa didengar dalam legenda Toltecs yang dikemukakan
Ixtlilxochitl, ahli sejarah asli India Meksiko.
Menurut studi
lingistik,anggapan bahwa aneka bahasa itu berasal dari satu sumber disebut
sebagai pendapat yang mengikuti teori monogenesis. Itu lawan teori poligenesis,
yang berarti banyak atau lebih dari satu sumber bahsa induk. Entah apa sbabnya,
banyak orang cenderung mempercanyai teori monogenesis. Mungkin karena nenek
moyang atau gnerasi dahulu hidup sangat religius, sehingga tidak mustail
apabila mereka selalu mewariskan ajaran bahwa asal-usul manuasia dan asal-usul
bahasa adalah sama. Karena itulah, apabila kisah Adam dan Hawa mudah
dipercanyai orang,kisah tentang aslausul bahasa yang monogenesis akan gampang dipercanyai
pula, kecuali bila semua orang percaya bahawa Adam tak pernah berkomunoikasi
dengan Hawa.
1.2
Rumusan Masalah
Mitos asal-usul
bahasa berlawanan dengan realitas penyebaran bahasa. Mitos itu statis dan
diterima begitu saja. Adapun realitas linguistik dinamis. Dalam arti,sesuai
dengan kurun waktu dan tempat serta terbuka bagi penalaran yang skeptis.
Kebenarannya bisa digugat dan dipertanyakan terus menerus, dilengkapi dengan
argumen kuat,jelas,dan masuk akal. Tidak bisa dipecaya begitu saja seperti
mitos. Namun mitos terlanjur mempengaruhi proposisi sehingga membuat semua
orang lebih percaya pada teori asal-usul bahasa yang bersifat monogenesis.
Dalam bab-bab
setelah ini, kita berbicara soal rekayasa bahasa berdasarkan realitas
linguistik dengan melihat kasus bahasa Indonesia. Walau masih dipengaruhimitos
asal-usul monogenesis, pembicaraan tentang perkembangan searah bahasa Indonesia
tidak bisa dilepaskan dari aneka faktor, terutama faktor kontak antara bahasa
Melayu dan bahasa asing atau bahasa daerah lain yang hidup berdampingan
dengannya. Dengan kata lain, kisah kelahiran bahasa indonesia merupakan kasus
linguistik yang menarik bila ditinjau dari proposisi monogenesis dan dipadukan
dengan aneka faktor yang mendukung usaha rekayasa berdasarkan realitas
linguistik dinegeri ini.
1.3 Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan
Bahasa
yang disempurnakan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, sesuai dengan
aturan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).
Bab2
Isi
A. Ucapan
Bahasa
Indonesia bagi sebagian besar penuturannya adalah bahasa kedua. Para penutur
yang berbahasa Indonesia., bahasa Indonesia mereka terpengaruh oleh bahasa
daerah daerah yang telah mereka kuasai sebelumnya. Pengaruh itut dapat
berkenaan dengan semua aspek keterbatasan. Pengaruh yang sangat jelas ialah
dalam bidang ucapan. Pengaruh dalam ucapan itu sulit dihindarkan dan menjadi
ciri yang membedakan ucapan penutur bahasa Indonesia dari daerah satu dengan
daerah yang klain. Seiring dengan mudah kita dapat menentukan daerah asal
seorang penutur nberdasarkan ucapan bahasa Indonesianya.
B. Ejaan
1. Pengantar
Ejaan penting sekali artinya dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa Indonesia
produktif tulis. Dalam tulis-menulis orang tidak hanya dituntut untuk dapat
menyusun kaliamat dengan baik, memilih kata yang tepat,melainkan juga mengea
kata-kata dan kalimat tersebut sesuai dengan ejaan yang berlaku. Dalam
surat-surat pribadi dan kalimat catatan harian misalnya, ketaan dalam EYD tidak
mutlak. Dalam karangan illmiah, dalam makalah, dan dalam surat-surat
perjanjian, kaidah ejaan harus beul-betul ditaati.
Sebelum, EYD diumumukan,dalam tulis menulis dipergunakan Ejaan Soewandi atau
ejaan Republik. Ejaan tersebut diumumkan berakunya terhitung mulai 19 Mart
1947, sebelum ejaan Soewandi berlaku Ejaan Van Ophuysen yang ketentuannya
dimuat dalam Kitab Logat Melajoe yang disusun dengan bantuan Engku Nawawi Gelar
Soetan Ma’Mur dan Muhammad Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini dinyatakan mulai
berlaku sejak tahun 1901 sebelum ejaan Van Ophuysen berlaku dalam tulis menulis
dalam bahasa Melayu,digunakan huruf Jawi atau Arab Melayu dan juga dengan huruf
Latin dengan ejaan yang tidak teratur.
2. Penulisan Huruf
a. Penulisan Huruf Kapital
Sudah kita ketahui bahwa huruf kapital digunakan untuk mengawali kalimat yang
baru. Disamping itu huruf kapital juga digunakan sebagai huruf awal pada nama
diri. Ucapan langsung juga diawali dengan huruf kapital.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama yang berhubungan dengan nama Tuhan
dan Kitab suci. Untuk Tuhan kata gantinya pun ditulis dengan huruf kapital.
Contoh
: Semoga Dia tidak melupakan hamba-Nya
Hanya Engkaulah yang kami sembah.
Dalam kaitannya
dengan nama diri, gelar kehormatan, keturunan, atau keagamaan,juga ditulis
dengan huruf kapital
Contoh
: Nabi Ibrohim
Haji Agus Salim
Sultan Hasanudin
Tentu saja
terpisah dari nama diri,dalam pengertian umum,huruf-huruf tersebut ditulis
dengan huruf kecil.
Contoh
: Dia baru saja diangkat menjadi sultan
Tahun ini dia pergi naik haji.
Nama jabatan
juga ditulis diawal dengan huruf kapitalapabila dikaitkan dengan nama instansi
atau nama daerah sebagai pengganti nama diri
Contoh
: Gubernur DKI Jakarta
Rektor Universitas Gunadarma
Nama diri atau
nama lembaga yang terdiri atas beberapa kata, kata-kata tersebut diawali dengan
huruf kapital kecuali apabila kata terdebut berupa kata tegas.
Contoh
: Amir Hamzah, Halim Perdana
Kusuma, Sapardi Djoko Damono
Nama lembaga
contohnya : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Fakultas Ilmu
Komputer Universitas
Gunadarma.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Kata-kata yang menunjukan hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara,
paman, huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital, apabila dgunakan sebagai
kata serapan atau kata yang digunakan untuk menyebut lawan bicara.
Kata “anada” yang dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan terbitan yang lama
cukup ditulis dengan huruf kecil dalam edisi tahn 1988 ditetapkan harus diawali
dengan huruf kapital. Perlu dijelaskan bahwa kata anada bukanlah kata sapaan
melainkan betul-betul merupakan kata ganti seperti halnya kamu dan engkau. Jadi
dengan ditetapkannya penulisan “Anda” yang diawali dengan huruf kapital tidak
ada lagi kata “Anda” yang diawali dengan huruf kecil.
Kemudian kata-kata yang digunakan dalam pengertian khusus harus ditulis dengan
huruf kapital, sedangkan kata-kata dengan pengertian umum ditulis dengan huruf
kecil. Kata presiden, gubernur, universitas, atau fakultas misalnya, dalam
pengertian umum ditulis dengan bhuruf kecil.
Contoh
: Suatu negara yang berbentuk
republik itu dikepalai oleh seorang
presiden.
Suatu provinsi dikepalai oleh seorang gubernur
Dalam
pengertian khusus kata-kata tersebut diawali dengan huruf kapital.
Misalnya
: Presiden Republik Indonesia akan melawat ke
luar negri.
Ia diterima menjadi mahasiswa Fakultas Imu Komputer Universitas
Gunadarma tahun
kuliah 2013/2014.
Nama diri yang
kemudian menjadinama jenis, tidak perlu ditulis dengan huruf kapital.
Contoh
: Ayah membeli mesin diesel.
Adik gemar sekali pisang ambon
Berapa harga sekitar rambutan aceh?
Ibu membeli garam inggris.
Nama diri yang
biasanya diawali huruf kapital itu juga ditulis dengan huruf kecil apabila
diapit dengan awalan atau akhiran.
Contoh
: Ucapan keinggris-imggrisan.
Masalah-masalah ketuhanan jangan dicampuradukkan dengn
masalah-masalah kedunian
b. Huruf Tebal
dan Miring
Seperti halnya
nama lembaga, judul buku atau karangan kata-katanya harus diawali dengan huruf
kapital. Kecuali yang berupa kata tugas. Berbeda dengan nama lembaga, judul
buku atau nama majalah, harus ditulis dengan huruf tebal. Apabila ditulis
dengan tangan kata-kata ang merupakan judul buku ini harus diberi garis bawah.
Contoh : Tata
Bahasa Baku Indonesia
Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Contoh
penulisan nama majalah :
Pengajar bahasa dan Sastra
Pembinaan Bahasa Indonesia
Hukum dan Keadilan
Judul naskah
yang belum diterbitkan sebagai buku seperti makalah skripsi, tesis, atau
disertai cukup ditulis dalam tanda petik (“_______”)
Contoh :
“Ejaan yang Benar dalam bahasa Indonesia”.
“Frase Nomina dalam bahasa Indonesia”.
Judul karangan
yang dimuat dalam majalah atau dalam buku kumpulan karangan, atau judul satu
bab dari suatu buku yang harus ditulis dengan huruf miring, kalau diketik atau
ditulis tangan diantara tanda petik.
Contoh :
Karangan Djoko Kencono yang berjudul “ Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia:
dimuat dalam buku Bahasa dan Kesustraan Indonesia sebagai Cermin Manusia
Indonesia Baru.
Huruf miring
juga dipergunakan untuk menegaskan atau emngkhususkan kata, bagian kata atau
kelompok kata.
Contoh : huruf
pertama kata abad adalah a.
Dia bukan menipu
tetapi ditipu(“me-“ dan “di-“ ditulis miring)
Yang saya
maksudkan prestsi bukan prestise.
Buatlah
kalimat-kalimat dengan kata berlepas tangan.
Huruf miring
juga digunakan untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing yang belum
disesuaikan ejaanya.
Contoh :
Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mongostana
Politik devide et impera pernah merajalela di negri ini.
Dalam beberapa
buku kadang huruf tebal itu tidak dipergunkan dan yang digunakan adalah huruf
miring. Dalam hal ini huruf miring digunakan untuk judul buku dan majalah/
3. Penulisan
Partikel dan Awalan
Dalam menulis
kata-kata sesuai dengan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan perlu
diperhatikan penulisan kata atau partikel yang tidak dirangkaikan.
Ada kata atau awalan yang harus ditulis serangkai, yaitu adi- misalnya pada
adidaya,adikuasa,adimarga,adibusana. Juga awalan awa- pada awabau,
awaair,awawarna,awasuara. Awalan awa- ini digunakan untuk mengindonesiakan
awalan de- pada kata-kata pinjaman dari bahasa Inggris dan belanda seperti
deodorant, dehidrasi, devoice yang artinya ‘penghilang’ atau ‘alat’ untuk
menghilangkan’. Juga mala- seperti malabentuk,malapraktik,malagizi.
Kata antara
ditulis ditulis terpisah,tetapi antar- ditulis seragkai. Contoh :
antarkota,antarpulau,antarnegara,antarbangsa.
Kata maha
apabila dirangkai dengan kata dasar ditulis serangkai. Contoh :
mahasiswa,mahaguru,Mahakuasa,Mahaadil. Tetapi apabila dirangkai dengan kata
bentukan tidak dirangkaikan. Contoh : Maha Pemurah, Maha Mengetahui, Maha
Pengampun. Yang dikecualikan dari ketentuan diatas ialah kata Maha esa yang
meskipun kata maha itu dirangkai dengan kata dasar, tetapi harus dipisah
Ejaan yang betul menurut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ialah Tuhan
Yang Maha Esa.
Bentuk-bentuk
lain yang dirangkai ialah awalan pra-,pasca-,pramu-,purna-,tuna-. Contoh
: prasejarah, pascasarjana, pascapanen ,paramuwisata,
pramuria,purnawaktu,purnawirawan, swadaya, swalayan, swasembada,
tunakarya, tunasusila, tunarungu.
Kata-kata
seperti anti-, non-, sub-, poli-, Ultra-, supra-. Juga ditulis seragkai
dengan kata mengikuti, seperti antikomunis, nongelar, submit, politeknik,
ultramodern, supranatural.
Seperti yang
sudah disebutkan di muka, gabungan dua kata yang diapit oleh awalan dan akhiran
juga ditulis serangkai. Contoh : pertanggungjawaban,ketidakhadiran, dan
menandatangani.
Kata-kata yang
harus ditulis serangkaian ialah : padahal, daripada, barangkali,
sekaligus, apabila, bilamana,jikalau,nadaikata,manakal.
4. Penulisan BilanganPedoman umum penulisan tanggal dan angka
- Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Ditulis dengan angka Arab atau Romawi.
- Angka dipakai untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, isi; satuan waktu; nilai uang; dan kuantitas.
- Angka dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
- Angka dipakai untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
- Penulisan lambang bilangan dengan huruf secara umum dipisahkan antar tiap bagian dan awalan "per-" (untuk pecahan) digunakan menyatu dengan bagian yang langsung mengikutinya.
- Lambang bilangan tingkat dituliskan dengan tiga cara: angka Romawi, tanda hubung antara "ke-" dan angka, atau dirangkai jika angka dinyatakan dengan kata.
- Lambang bilangan yang mendapat akhiran "-an" ditulis dengan tanda hubung antara angka dan "-an" atau dirangkai jika angka dinyatakan dengan kata.
- Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah.
- Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja agar mudah dibaca.
- Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus, kecuali dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Jika dituliskan sekaligus, penulisan harus tepat.
- Awalan "ke-" tidak dipisah pada bilangan yang menyatakan jumlah dan pada bilangan ordinal. Misalnya: Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang. Juga pada kata yang menunjukkan urutan, misalnya Ia adalah anak kesatu, Orang itu menempati urutan kedua di antara para pengunjung.
Contoh
- Jika ditulis dengan angka Arab, bilangan ditulis diawali dengan ke-. Jika ditulis dengan angka Romawi, bilangan ditulis sendirian.
- Benar: abad kesebelas, abad ke-11, abad XI
- Salah: abad ke sebelas, abad ke-sebelas, abad 11, abad ke 11, abad ke-XI, abad ke XI
- Penulisan tahun
- Benar: 1960-an
- Salah: 1960an
· 5.
FUNGSI
TANDA BACA BESERTA CONTOHNYA
·
Membuat variasi kalimat dari penggunaan tanda
baca.
·
1. Titik
(.) 1.1 Tanda
titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan atau kalimat
berita.
·
Contoh: l
Fitur utama bisnis adalah bahwa sesuatu itu harus dapat dijual atau
menghasilkan uang.
·
1.2 Tanda titik dipakai pada akhir singkatan
nama orang.
·
Contoh: l
LL Bean yang membuat peralatan outdoor bukan perusahaan berskala raksasa tetapi
memiliki reputasi melampaui bisnis yang lebih besar.
·
1.3 Tanda titik dipakai pada akhir singkatan,
gelar, jabatan, pangkat dan sapaan.
·
Contoh: l
Dr. (Dokter) -> Dr. Tangkas mendapatkan gelar sarjananya
dengan nilai yang memuaskan.
·
1.4 Tanda titik dipakai pada singkatan kata yang
umum dipakai, biasanya diambil 3 huruf.
·
Contoh: l
hlm. (Halaman) -> Kutipan
menarik itu diambil dari hlm 5 dan 8.
·
1.5 Tanda titik dipakai untuk pemisah bilangan
ribuan atau kelipatannya.
·
Contoh: l
Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus penduduk adalah sebanyak
237.556.363 jiwa.
·
·
2. Koma
(,) 2.1 Tanda
koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
·
Contoh: l
Pada bulan puasa atau menjelang Hari Raya Idul Fitri pakaian yang paling laris
pastilah peci, baju koko dan sarung.
·
2.2 Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat
setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata
seperti, tetapi, dan kecuali.
·
Contoh: l
Industri hulu masa kini umumnya, seperti plastik, minyak kelapa sawit atau
pabrik gula.
·
2.3 Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak
kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk
kalimatnya.
·
Contoh: l
Apabila keliru memilih bidang spesialisasi, usaha tidak dapat melaju.
·
2.4 Tanda koma dipakai di belakang kata atau
ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat.Termasuk di
dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
·
Contoh: l Oleh karena itu, sangat disarankan
agar kita menengok dulu ke kiri dan ke kanan sebelum menyebrang.
·
2.5 Tanda koma dipakai di belakang kata-kata
seperti o , ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
·
Contoh:l Kasihan, anak kecil itu tertabrak
mobil.
·
2.6 Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan
langsung dari bagian lain dalam kalimat.
·
Contoh: l
“Pemantapan struktur ekonomi masyarakat ke depan harus berbasis pada sumber
daya unggulan daerah dengan dukungan infrastruktur ekonomi wilayah yang
memadai, "kata Cagub incumbent Hj Ratu atut Chosiyah, di Serang, Jumat
(7/10/2011).
·
2.7 Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian
nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka .
·
Contoh: l
Widjaya, IG Rai. Hukum
Perusahaan. Jakarta: Megapoin,
2000.
·
·
3. Tanda
titik koma (;) 3.1
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang
sejenis dan setara.
·
Contoh: l
Malam makin larut; kami belum selesai juga.
·
3.2 Tanda titik koma dapat dipakai untuk
memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti
kata penghubung.
·
Contoh: l
Ayah pergi ke kantor; ibu sibuk bekerja di dapur; adik mengerjakan pr.
·
4. Tanda
titik dua (:) 4.1
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti
jaringan.
Contoh: l
Fakultas Ekonomi UPN Jogja memiliki tiga jurusan: Akuntansi, Managemen, dan
Ilmu Ekonomi.
4.2 Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan
yang membutuhkan pemerian.
Contoh:
l Project By: TriExs Media Project
Penulis: Lie Charlie
Editor: Wicak
4.3 Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah
kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh: l
Guy: "Tolong sampaikan memo ini kepada bendahara.”
Ilan: “Siap, Pak.”
4.4 Tanda titik dua dipakai
(i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci,
atau
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.
Contoh : l
QS. Al-Baqarah: 38
4.5 Tanda titik dua dipakai untuk menandai rasio
(angka banding).
Contoh:
l Perbandingan sex ratio antara laki-laki dan perempuan di daerah x tahun 2010
adalah 100: 97.
5.Tanda hubung (-) 5.1 Tanda hubung dipakai untuk
menghubungkan unsur-unsur kata ulang.
Contoh:
l Anak-anak kelaparan di negara Afrika adalah akibat globalisasi.
5.2 Tanda hubung dipakai untuk menyambung huruf kata
yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh:
l indonesia
l 21-12-2012
5.3 Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan
(a) se-dengan kata berikutnya yang dimulai dengan
huruf kapital;
(b) ke-dengan angka,
© angka dengan-an,
(d) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau
kata, dan
(e) nama jabatan rangkap.
Contoh:
l se-Indonesia; ke-6; tahun 90-an.
5.4 Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur
bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
l di- packing
6. Tanda
tanya (?) 6.1 Tanda
tanya dipakai pada akhir tanya.
Contoh: l
Siapa menteri keuangan saat ini?
6.2 Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk
menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan
kebenarannya.
Contoh: l
Dinosaurus musah sejak 30 juta tahun yang lalu (?)
7. Tanda
seru (!) 7.1
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau
perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi
yang kuat.
Contoh: l Jauhkan dia
sekarang juga!
8. Tanda
petik ganda (“…”) 8.1
Tanda petik ganda mengapit petikan langsung yang berasaldari pembicaraan dan
naskah atau bahan tertulis lain.
Contoh: l
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara adalah Bahasa Indonesia.”
8.2 Tanda petik dipakai untuk mengapit judul syair,
karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contoh: l
Sekjen PBB memberikan pidato yang berjudul “Perdamaian Dunia di Tengah Krisis
Sosial” yang menghasilkan dukungan dari seluruh dunia.
8.3 Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah
yang kurang dikenal atau kata yang memiliki arti khusus.
Contoh: l
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
9. Tanda
garis miring (/) 9.1
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan
penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Contoh: l
Jalan Kediri VI / 2
9.2 Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata
tiap, per atau sebagai tanda bagi dalam pecahan dan rumus matematika.
Contoh: l
Modem itu memiliki kecepatan sampai 7,2 Mb / s.
10. Tanda
petik tunggal (’…’) 10.1
Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan yang tersusun di dalam
petikan lain.
Contoh: l “Dia bilang padaku ‘jangan kau ganggu
dia’, seketika itu aku ingin mengingatkannya kembali.” Ujar Andi.
10.2 Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit
makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Contoh:
l Dengan metode ilmiah atau psikis tertentu brain-washing 'cuci otak’ memang
dapat dilakukan.
11. Tanda
apostrof (’) 11.1
Tanda apostrof digunakan untuk penghilangan bagian kata atau bagian angka
tahun.
Contoh: l
Tangkas bertugas sebagai pembaca pembukaan UUD '45.
12. Tanda
elipsis (…) 12.1
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus, misalnya untuk
menuliskan naskah drama.
Contoh: l
“PLAK ….. ALHAMDULLLIILAHH ……” kuda
itu berjalan dengan cepat, sampai-sampai orang itu tidak bisa mengendalikanya,
di depan terlihatlah jurang yang sangat dalam.
12.2 Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu
kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan, misalnya dalam kutipan
langsung.
Contoh: l
Sebab-sebab kemunduran indonesia dikarenakan … ketimpangan ekonomi antara si miskin
dan si kaya.
·
13. Tanda
kurung (…) 13.1
Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
·
Contoh: l
Jumlah barang yang diminta pada berbagai tingkat harga disebut demand
(permintaan).
13.2 Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan
yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Contoh: l
Pertumbuhan pemberian kredit dari Desember 2008 sampai Januari 2009 (lihat
Tabel 2) menunjukkan adanya perkembangan perekonomian Indonesia terhadap sektor
rill.
13.3 Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang
kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh: l
BJ Habibie adalah orang yang berasal dari (Daratan) Asia pertama yang memimpin
perusahaan terpenting di Eropa.
13.4 Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang
memerinci satu urutan keterangan.
Contoh: l
Jenis elastisitas terdiri dari
(a) elastis,
(b) inelastis,
© elastis uniter,
(d) elastis sempurna, dan
(e) inelastis sempurna.
14. Tanda
Tanda Kurung Siku ([…])
14.1 Tanda kurung siku mengapit huruf,
kata atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada tulisan orang lain.
Contoh: l
Ibu men [y] apu halaman rumah sejak pagi.
14.2 Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam
kalimat penjelas yang sudah ditandai kurung.
BAB 3
Kesimpulan dan
Saran
A. Kesimpulan
Sebelum EYD,
Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967
mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan Baru pada dasarnya merupakan
lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh panitia Ejaan Malindo. Para pelaksananya pun di samping terdiri dari
panitia Ejaan LBK, juga dari panitia ejaan dari Malaysia. Panitia itu berhasil
merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Panitia itu
bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan no.062/67,
tanggal 19 September 1967.
Pada 23 Mei 1972, sebuah
pernyataan bersama ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mashuri. Pernyataan
bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah
disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang
Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972,
berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan
Latin bagi bahasa Melayu ("Rumi" dalam istilah bahasa Melayu
Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia, ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Pada waktu pidato kenegaraan untuk
memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdakan Republik Indonesia yang ke XXVII,
tanggal 17 Agustus 1972 diresmikanlah pemakaikan ejaan baru
untuk bahasa Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia. Dengan Keputusan
Presiden No. 57 tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa
Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Ejaan tersebut merupakan hasil yang dicapai
oleh kerja panitia ejaan bahasa Indonesia yang telah dibentuk pada tahun 1966. Ejaan
Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan ini merupakan penyederhanaan serta
penyempurnaan dari pada Ejaan Suwandi atau ejaan Republik yang dipakai sejak
dipakai sejak bulan Maret 1947.
Selanjutnya
pada tanggal 12 , Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku "Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah
penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975
Nomor 0196/U/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan" dan "Pedoman Umum Pembentukan Istilah".
B. Sarann
1. Gunakan bahasa indonesia yang baik, terlebih lagi pada
era sekarang banyak sekali bahasa yang tidak sesuai dengan kamus Indonesia dan
tidak sesuai dengan aturan EYD, seperti bahasa gaul anak muda sekarang.
2. Pelajari bahasa Indonesia secara baik dan benar.
3. Bekali pemahaman bahasa yang digunakan untuk
sehari-sehari.
4. Pengucapan ejaan kalimat seharusnya di sesuaikan
dengan kamus Bahasa Indonesia.
Daftar Pustaka
Alisjahbana, S. Takdir, 1962,
Indonesia Language and Literature : Two Essays. Cultural Report Series No.11.
new Haven: Yale University.
Alisjahbana, S. Takdir, 1974,
Language Policy, Language Enggineering and Literacy in Indonesia and
Malaysia” dalam Advaces in Language Planning , diedit Joshua Fishman , The
Hague: Moouton, halaman 391-416.
Alisjahbana, S. Takdir, 1976 ,
Language Planning and Modernization: The Case of Indonesian and Malaysia, The
Hague : Mouton.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua. Jakarta : Balai Pustaka.
Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991. Prosiding Teknik
Penulisan Buku Ilmiah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
https://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Yang_Disempurnakan
Siregar, Bakri,1964, Sedjarah Sastra
Indonesia Modern,Djakarta : Akademi Sastera dan Bahasa Multatuli.
Wahyu, Tri R.N, 2006, BAHASA
INDONESIA. Jakarta : Universitas Gunadarma
Komentar
Posting Komentar