PROPOSAL
BAB I
PENDAHULUAN
A. Nama Usaha
Nama Usaha ini adalah “Garuda Kepek-kepek”
Nama Usaha ini adalah “Garuda Kepek-kepek”
B. L ATAR BELAKANG
Perkembangan informasi teknologi sangat pesat
bahkan di pelosok-pelosok yang dulunya belum merasakan teknologi pun sekarang
bisa menikmati layanan informasi teknologi scara online. Teknologi
Informasi muncul sebagai akibat semakin merebaknya globalisasi dalam kehidupan
organisasi, semakin kerasnya persaingan bisnis, semakin singkatnya siklus hidup
barang dan jasa yang ditawarkan, serta meningkatnya tuntutan selera konsumen
terhadap produk dan jasa yang ditawarkan. Untuk mengantisipasi semua ini,
perusahaan mencari terobosan baru dengan memanfaatkan teknologi. Teknologi
diharapkan dapat menjadi fasilitator dan interpreter. Semula teknologi
informasi digunakan hanya terbatas pada pemrosesan data. Dengan semakin
berkembangnya teknologi informasi tersebut, hampir semua aktivitas organisasi
saat ini telah dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi.
Salah satu teknologi informasi yang tidak kalah
pentingnya adalah pemakaian Electronic Data Interchange (EDI).
EDI adalah komunikasi antar komputer dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan
mengurangi pekerjaan yang sifatnya klerikal. Hansen dan Hill (1989)
mendefinisikan EDI sebagai pergerakan dokumen bisnis dalam format terstruktur
antara berbagai patner bisnis dalam suatu organisasi. Dengan EDI, dokumen yang
diterima dapat memerintahkan komputer secara otomatis. EDI yang terintegrasi
memberikan peluang pada manajer untuk berkonsentrasi penuh pada pengambilan
keputusan strategik dan meningkatkan kemampuan dalam pengendalian beberapa
aktivitas.
Teknologi akan terus berkembang. Teknologi informasi
yang kuat akan menjadi competitive edge bagi perusahaan dan
sekaligus menjadi entry barrier (Fasio, 1994). Bagi organisasi
yang ingin maju dan berkembang, tidak ada alasan untuk tidak menggunakan
teknologi sepanjang hal itu dapat mempermudah perusahaan menyesuaikan diri
dengan lingkungannya (Hanscombe, 1989).
Perusahaan yang sudah mapan dan maju biasanya sudah
bisa mengatur manajemen persediaan untuk menunjang barang dan jasa yang mereka
jual kepada perusahaan. Kadang jika perusahaan itu tidak bisa mengatur
persediaannya entah itu produk mereka sendiri atau barang setengah jadi dan
barang mentah kadang juga bisa menghambat proses dari pembuatan barang tersebut
atau kadang juga bisa menghambat pelaksanaan jasa yang ditawarkan oleh
perusahaan.
Mengendalikan persediaan atau inventory management
yang tepat bukanlah hal yang mudah. Apabila jumlah persediaan terlalu besar
mengakibatkan timbulnya dana yang dikeluarkan terlalu besar, meningkatnya biaya
penyimpanan (seperti biaya pegawai, Biaya operasional pabrik, biaya gedung,
dll) dan resiko kerusakan barang yang lebih besar. Namun bila persediaan
terlalu sedikit mengakibatkan resiko terjadinya kekurangan persediaan (stock
out) karena seringkali barang persediaan tidak dapat didatangkan secara
mendadak yang menyatakan terhentinya proses produksi, tertundanya keuntungan,
bahkan hilangnya pelanggan.
Dari uraian tersebut maka diperlukan sebuah aplikasi
inventory control untuk mengatur persediaan sebuah perusahaan dengan produk
yang bermacam-macam(multiproduk).
B. Rencana Lokasi Usaha
Bandung
– Jawa Barat, lokasi yang dipilih merupakan tempat yang strategis untuk pembuatan,
penyaluran bahan-bahan dan penjualan barang. Dan berada tidak jauh dari Pusat
Kota, lokasi mudah terlihat dan berada di jalan utama yang merupakan jalur angkutan umum dan jalan
lalu lalang masyarakat dan pekerja sekitar sehingga dapat dengan mudah dicari
dan didatangi.
C. Target Pelanggan
Target pelanggan barang ini adalah : negara-negara
berkembang dan maju , pecinta militer , pengusaha alat-alat militer , pengusaha
jasa kemanan. Mereka adalah pelaku dan pendukung kegiatan milliter.
D. PERUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan latar belakang yang telah dijelaskan,
maka akan diuraikan pokok-pokok masalah yang akan dikaji dalam tesis ini adalah
sebagai berikut :
- Bagaimana mengatur jumlah persediaan ideal sehingga persediaan barang tetap terjaga tidak serlalu besar dan tidak kekuarangan?
- Bagaimana jumlah persediaan berbagai jenis produk serta rencana pembelian kembali direncanakan dan diatur secara otomatis oleh sistem?
- Bagaimana menerapkan metode eqonomic order quantity untuk menghasilkan jumlah persediaan secara online dan realtime?
E. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan masalah tersebut diatas, maka penelitian
bertujuan :
- Mendapatkan jumlah ideal seluruh barang persediaan.
- Memberikan DSS (decision support system) jumlah persediaan dan waktu pemesanan kembali kepada perusahaan secara otomatis setelah waktu yang ditentukan.
- Menerapkan Model Eqonomic Order quantity untuk menghitung jumlah persediaan.
F. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini adalah :
- Perusahaan mengetahui jumlah ideal persediaan barang yang harus disimpan di gudang tanpa harus takut kekurangan ataupun kelebihan persediaan.
- Perusahaan dapat memperoleh informasi persediaan barang secara online.
- Menghasilkan informasi tentang transaksi secara online yang berupa jenis barang yang paling laku dipasaran, waktu transaksi yang paling sering, user yang paling sering transaksi serta pelanggan yang sering bertransaksi.
G. LANDASAN TEORI
Untuk memperjelas pemahaman serta dasar dari
penelitian ini maka penulis memaparkan landasan teori yang menjadi dasar dalam
penyusunan penelitian ini.
1. Inventory Control
Salah satu fungsi manajerial yang sangat penting dalam
operasional suatu perusahaan adalah pengendalian persediaan (inventory
controll), karena kebijakan persediaan secara fisik akan berkaitan dengan
investasi dalam aktiva lancar di satu sisi dan pelayanan kepada pelanggan di
sisi lain. Pengaturan persediaan ini berpengaruh terhadap semua fungsi bisnis (
operation, marketing, dan finance). Berkaitan dengan persediaan ini
terdapat konflik kepentingan diantara fungsi bisnis tersebut. Finance
menghendaki tingkat persediaan yang rendah, sedangkan Marketing dan operasi
menginginkan tingkat persediaan yang tinggi agar kebutuhan konsumen dan kebutuhan
produksi dapat dipenuhi.
Berkaitan dengan kondisi di atas, maka perlu ada
pengaturan terhadap jumlah persediaan, baik bahan-bahan maupun produk jadi,
sehingga kebutuhan proses produksi maupun kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi.
Tujuan utama dari pengendalian persediaan adalah agar perusahaan selalu
mempunyai persediaan dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam
spesifikasi atau mutu yang telah ditentukan sehingga kontinuitas usaha dapat
terjamin (tidak terganggu).
Usaha untuk mencapai tujuan tersebut tidak terlepas
dari prinsip-prinsip ekonomi, yaitu jangan sampai biaya-biaya yang dikeluarkan
terlalu tinggi. Baik persediaan yang terlalu banyak, maupun terlalu sedikit
akan minimbulkan membengkaknya biaya persediaan. Jika persediaan terlalu
banyak, maka akan timbul biaya-biaya yang disebut carrying cost, yaitu
biaya-biaya yang terjadi karena perusahaan memiliki persediaan yang
banyak, seperti : biaya yang tertanam dalam persediaan, biaya modal (termasuk
biaya kesempatan pendapatan atas dana yang tertanam dalam persediaan), sewa
gudang, biaya administrasi pergudangan, gaji pegawai pergudangan, biaya
asuransi, biaya pemeliharaan persediaan, biaya kerusakan/kehilangan,
Begitu juga apabila persediaan terlalu sedikit akan
menimbulkan biaya akibat kekurangan persediaan yang biasa disebut stock out
cost seperti : mahalnya harga karena membeli dalam partai kecil,
terganggunya proses produksi, tidak tersedianya produk jadi untuk
pelanggan.Jika tidak memiliki persediaan produk jadi terdapat 3 kemungkinan,
yaitu : 1). Konsumen menangguhkan pembelian (jika kebutuhannya tidak mendesak).
Hal ini akan mengakibatkan tertundanya kesempatan memperoleh keuntungan. 2).
Konsumen membeli dari pesaing, dan kembali ke perusahaan (jika kebutuhan
mendesak dan masih setia). Hal ini akan menimbulkan kehilangan kesempatan
memperoleh keuntungan selama persediaan tidak ada. 3). Yang terparah jika
pelanggan membeli dari pesaing dan terus pindah menjadi pelanggan pesaing,
artinya kita kehilangan konsumen.
Selain biaya di atas dikenal juga biaya pemesanan (ordering
cost) yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan
pemesanan sejak penempatan pesanan sampai tersedianya bahan/barang di gudang.
Biaya-biaya tersebut antara lain : biaya telepon, biaya surat menyurat, biaya
adminisrasi dan penempatan pesanan, biaya pemilihan pemasok, biaya pengangkutan
dan bongkar muat, biaya penerimaan dan pemeriksaan bahan/barang.
Inventory Control adalah aktivitas mempertahankan jumlah persediaan
pada tingkat yang dikehendaki. Pada produk barang, pengendalian persediaan
ditekankan pada pengendalian material. Pada produk jasa, pengendalian
diutamakan sedikit pada material dan banyak pada jasa pasokan karena konsumsi
sering kali bersamaan dengan pengadaan jasa sehingga tidak memerlukan
persediaan.
Alasan mengapa persediaan perlu dikendalikan karena
Persediaan merupakan investasi yang membutuhkan modal besar, Mempengaruhi
pelayanan ke pelanggan dan mempunyai pengaruh pada fungsi operasi, pemasaran,
dan fungsi keuangan.
Jenis persediaan dibagi menjadi 2 jenis yaitu
Persediaan barang jadi yang biasanya tergantung pada permintaan pasar (independent
demand inventory) dan Persediaan barang setengah jadi dan bahan mentah
ditentukan oleh tuntutan proses produksi dan bukan pada keinginan pasar (dependent
demand inventory).
Kapasitas
merupakan kemampuan untuk menghasilkan produk sedangkan persediaan barang
adalah semua persediaan material yang ditempatkan di sepanjang jaringan proses
produksi dan jalur distribusi.
Tujuan dari
persediaan adalah :
1. Menghilangkan pengaruh
ketidakpastian (mis: safety stock)
2. Memberi waktu luang untuk
pengelolaan produksi dan pembelian
3. Untuk mengantisipasi perubahan pada
permintaan dan penawaran.
4. Menghilangkan/mengurangi
risiko keterlambatan pengiriman bahan
5. Menyesuaikan dengan jadwal produksi
6. Menghilangkan/mengurangi resiko
kenaikan harga
7. Menjaga persediaan bahan yang
dihasilkan secara musiman
8. Mengantisipasi permintaan yang dapat
diramalkan.
9. Mendapatkan keuntungan dari quantity
discount
10. Komitmen terhadap pelanggan.
BAB II
RENCANA PRODUKSI
A. Proses Produksi
Proses
produksi yang kami jalankan dalam perusahaan Garuda Hiber ini dapat dilihat
pada bagan berikut :
B. Sumber-sumber Produk / Bahan
Untuk
sumber-sumber alutsta, kami mengambil bahan dari berbagai negara maupun dalam
negeri dan supplier atau perusahaan yang sudah terjamin dan terbukti kualitas
maupun kuantitas dengan kekuatan dan model yang menarik konsumen tentunya.
Sehingga dengan begitu tidak merugikan berbagai pihak, baik dari pihak
perusahaan maupun konsumen yang membelinya. Serta terdapat garansi pada setiap
product yang tersedia.
11. BAB III
12. MODAL
DAN KEUNTUNGAN
A. Sumber-sumber permodalan
Sebagai
sumber awal mula pendirian Garuda Hiber yaitu dari pemilik Perusahaan bernama
Minyak Indonesia. Sebagai investasinya untuk itu didirikanlah perusahaan dalam
bidang alustista.
B. Neraca Permulaan Perusahaan
Biaya produksi per tahun
terdiri dari:
1. Modal Awal produksi
Pembelian Tanah & Pembangunan Gedung
|
Rp. 2.000.000.000,-
|
|
Peralatan Penunjang & Safety Equipment
|
Rp. 1.000.000.000,-
|
|
Biaya Soft Opening dan Promosi awal
|
Rp. 50.000.000,-
|
|
Biaya gaji karyawan tahun pertama
|
Rp. 200.000.000 ,- +
|
|
Jumlah Modal Produksi
|
Rp. 3.250.000.000,-
|
2. Biaya lain-lain
Listrik
Rp. 750.000.000,-
· Asuransi
Rp. 3.000.000.000,-
Transportasi
Rp. 500.000.000,- Administrasi
Rp. 50.000.000,-
Pajak
Rp. 100.000.000,-
Pemeliharaan gedung dan peralatan Rp. 50.000.000,- +
Jumlah biaya lain-lain Rp. 4.450.000.000,-
Jumlah biaya lain-lain Rp. 4.450.000.000,-
Total seluruh biaya produksi (1 + 2)
Jumlah modal produksi Rp. 3.250.000.000,-
Jumlah biaya
lain-lain
Rp. 4.450.000.000,- +
Total Rp. 4.450.000.000,-
C. Proyeksi Aliran Kas
Untuk
perusahaan kami proyeksi keuntungan kotor adalah 15% dari penghasilan.
Rata-rata untuk distro kami ini, akan mampu menjual sekitar 200 lebih pertahun,
sehingga jika diambil keuntungan bersih pertahun adalah sekitar 800 – 3 miliar
pertahun.
Sehingga,
pada tahun ketiga, kami sudah bisa balik modal. Dan tahun ke 4, 5 dan seterusnya, kami tinggal mengumpulkan untung dan
kemungkinan besar kami gunakan untuk ekspansi ke luar daerah.
D. Perencanaan Laba Rugi
INVESTASI
|
JUMLAH
(RP)
|
Biaya tetap
|
Rp.
100.000.000,-
|
1.
Penyusutan gedung dan peralatan
|
Rp. 20.000.000,-
|
2 Gaji pegawai
|
Rp. 80.000.000,- +
|
Jumlah
|
Rp.
200.000.000,-
|
Biaya variable/ produksi
|
Rp. 1.000.000.000,-
|
Pembelian perlengkapan
|
Rp.12.000.000.000,-+
|
Jumlah
|
Rp. 13.000.000.000,-
|
Biaya-biaya lain
|
|
1. Listrik
2. Asuransi
3. Transportasi
4. Administrasi
5. Pajak
|
Rp. 75.000.000,-
Rp. 5.000.000.000,-
Rp. 7500.000.000,-Rp. 50.000.000,-
Rp. 275.000.000,-
|
Total Modal produksi
|
Rp. 12.900.000.000,-
|
TOTAL MODAL (PENGELUARAN)
|
Rp.
26.100.000.000,-
|
Pendapatan
Penjualan Pesawat Cargo Rp.
5.000.000.000,-
Penjualan
Pesawat Jet RP.
12.000.000.000,-
Penjualan
Pesawat Sipil Rp.
5.000.000.000,-
Penjualan
Helikopter Barang Rp.
8.000.000.000,-
Penjualan
Helikopter Amphibi Rp.
15.000.000.000,- +
Total Pendapatan Rp. 45.000.000.000,-
13. BAB IV
14. RISIKO
A. Evaluasi tentang kelemahan Usaha
a.
Kekuatan
Ø Bertanggung jawab, disiplin
kerja, kreatif dan inovatif
Ø Dapat memenuhi kebutuhan
pelanggan
Ø Memberikan pelayanan terbaik
terhadap pelanggan
Ø Menjual produk yang
berkualitas
|
b.
Kelemahan
Ø Persaingan pasar dengan
perusahaan yang berskala nasional
Ø dan tidak dijual untuk
umum.
|
B. Gambaran tentang Masa Kini
Resiko
yang dihadapi adalah berupa ancaman terhadap kelangsungan jumlah pesanan
pelanggan. Hal ini disebabkan minimnya SDM dan mahalnya bahan-bahan dan
peralatan, dan jumlah produksi yang tidak murah untuk usaha alustista. Dengan ini maka lambat laun akan semakin banyak orang yang
berfikir lebih panjang untuk memulai usaha alustista. Meskipun Sebagai upaya
untuk mengantisipasi hal ini, maka kami selalu memberikan dan menyediakan produk yang terbaru dan tentunya sesuai
dengan kualitas dan kebutuhan pertambangan. Dengan
begitu pelanggan akan memiliki keterkaitan dan terus merasa perlu untuk datang
ke tempat kami.
.
1.
Model Eqonomic Order Quantity
Economic
Order Quantity – yang biasa disingkat EOQ – adalah sejumlah produk yang harus
dipesan untuk memenuhi persediaan. Tentunya sejumlah produk yang dipesan ini
harus memenuhi suatu nilai yang ekonomis. EOQ harus dapat meminimasi biaya
variabel. Yang termasuk dalam biaya variabel dalam kasus ini adalah biaya
penyimpanan dan biaya pemesanan.
Dapat kita
bayangkan bahwa jika jumlah pemesanan unit produk melebihi jumlah pemesanan
yang ekonomis, hal ini akan membuat biaya penyimpanan menjadi lebih tinggi
dibandingkan dengan biaya persediaan dari jumlah pemesanan yang ekonomis.
Selain itu, bila jumlah pemesanan unit produk kurang dari jumlah pemesanan yang
ekonomis, maka biaya pemesanan akan lebih besar dibandingkan dengan biaya
pemesanan dari jumlah pemesanan yang ekonomis. Hal ini disebabkan karena
perusahaan harus memesan produk berkali-kali dengan biaya pemesanan yang
dilipatgandakan.
Biaya
penyimpanan meliputi biaya sewa gudang, biaya listrik, pajak, asuransi, dan
lain-lain. Sedangkan biaya pemesanan dapat meliputi biaya antar barang dari
tempat pemesanan ke gudang, biaya pemeriksaaan, biaya penanganan material, dan
lain-lain. Dalam model EOQ, biaya ini dihitung secara tahunan.
Komponen
lain yang termasuk dalam model EOQ adalah titik pemesanan kembali (reorder
point). Reorder point adalah suatu titik (sejumlah item
tertentu) di mana perusahaan harus memesan kembali. Reorder Point bergantung
pada lead time, yaitu waktu yang diperlukan perusahaan untuk
memenuhi pemesanan. Jadi, model EOQ juga harus dapat menjawab pertanyaan berapa
banyak dan kapan item yang harus dipesan agar tercapai nilai yang ekonomis.
Secara umum
model perhitungan (rumus) EOQ adalah sebagai berikut.
Keterangan :
Q* = nilai
EOQ (unit)
C = biaya
pemesanan per pesanan
R =
permintaan per tahun (unit)
h = biaya
penyimpanan
Contoh Soal
1:
Perusahaan
purchases 8000 units of a product each year at cost of $10. The order cost is
$30 per order, and holding cost per unit per year is $3.
Untuk
menghitung banyaknya pesanan selama setahun adalah sebagai berikut.
Keterangan :
m = banyaknya pesanan selama setahun (pesanan per tahun)
Total biaya untukhu EOQ per tahun:
m = banyaknya pesanan selama setahun (pesanan per tahun)
Total biaya untukhu EOQ per tahun:
Keterangan :
TC(Q*) = total biaya EOQ per tahun
P = purchase of an item
TC(Q*) = total biaya EOQ per tahun
P = purchase of an item
Reorder
Point:
Bila L dinyatakan dalam bulan:
Bila L dinyatakan dalam bulan:
Bila L
dinyatakan dalam minggu:
Keterangan :
B = Reorder Point (unit)
L = Lead Time (month/week)
Keterangan :
B = Reorder Point (unit)
L = Lead Time (month/week)
Contoh Soal
2 :
Pada Contoh Soal 1, berapa total biaya untuk EOQ per tahun, banyak pesanan yang harus dipesan selama setahun, dan reorder point bila lead time-nya adalah dua minggu?
Pada Contoh Soal 1, berapa total biaya untuk EOQ per tahun, banyak pesanan yang harus dipesan selama setahun, dan reorder point bila lead time-nya adalah dua minggu?
Penyelesaian
2 :
total biaya untuk EOQ per tahun (dalam $):
banyak pesanan yang harus dipesan selama setahun:
total biaya untuk EOQ per tahun (dalam $):
banyak pesanan yang harus dipesan selama setahun:
reorder
point (unit):
3.
Simulasi Model Eqonomic Order Quantity
Persediaan merupakan suatu masalah yang kompleks dan
penting untuk perusahaan karena menyangkut masalah- masalah optimasi dengan
model kuantitatif sehingga diperlukan teknik-teknik perhitungan tersendiri.
Untuk menyelesaikan masalah ini digunakan metode kuantitatif. Manajer perlu
mengambil keputusan dan menentukan tingkat persediaan optimal. Pada suatu
perusahaan persediaan merupakan bagian dari porsi yang tercantum dalam neraca
perusahaan. Jika persediaan terlalu besar dan terlalu kecilakan menimbulkan
suatu masalah. Kekurangan persediaan bahanmentah akan menyebabkan terhambatnya
proses produksi sehingga akan menyebabkan kekurangan persediaan barang yang
akan mengakibatkan kekecewaan bagi konsumen (pelanggan). Dilain pihak kelebihan
persediaanakan menimbulkan biaya ekstra dan resiko sehingga diperlukan
bagaimana cara menangani persediaan yang efektif yang dapatmemberikan sumbangan
berarti bagi keuntungan perusahaan.
Fungsi utama
pengendalian persediaan adalah menyimpan untuk melayani kebutuhan perusahaan
akan bahan mentah/bahan jadi dari waktu ke waktu. Fungsi ini ditentukan oleh
berbagai kondisi seperti :
-
Bila jangka waktu pengiriman bahan mentah relative lama, maka perusahaan
memerlukan persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan perusahaan sehingga
selama jangka waktu pengiriman. Untuk perusahaan dagang barang harus cukup
untuk melayani permintaan konsumen selama jangka waktu pengiriman barang dari
supplier/produsen.
-
Umumnya jumlah yang dibeli atau diproduksi lebih besar dari yang dibutuhkan
karena membeli/memproduksi dalam jumlah besar lebih ekonomis oleh karenanya
sebagian barang yang belum digunakan disimpan sebagai persediaan.
-
Bila permintaan bersifat musiman, sedangkan tingkat produksi adalah kosntan
maka perusahaan dapat membuat tingkat persediaan yang berfluktuatif mengikuti
fluktuatif permintaan.
Contoh :
Permintaan
sepeda anak pada saat kenaikan kelas sedangkan tingkat produksi yang konstan
lebih disukai oleh produsen karena tidak memerlukan extra cost (biayatambahan)
dan biaya produksi yang berfluktuatif umumnya akan lebih besar dari pada biaya
biaya penyimpanan barang digudang.
-
Selain untuk memenuhi permintaan konsumen persediaan juga diperlukan bila biaya
untuk mencari barang/bahan pengganti/biaya kehabisan stok(stock out cost)
relative besar.
Berikut ini
gambaran tentang Inventory Control
-
Semakin banyak barang semakin murah biaya pemesanan
-
Semakin banyak barang semakin tinggi biaya pemeliharaan
-
Semakin banyak barang semakin tinggi resiko
-
Semakin sedikit barang semakin mahal biaya pemesanan
-
Semakin sedikit barang semakinsedikitbiayapemeliharaan
-
Semakinsedikitbarangsemakintinggiresikokekuranganpersediaan.
Komponen
Biaya
Tujuan yang
akan dicapai dari inventory persediaan adalah mengendalikan tingkat persediaan
agar selalu cukup tidak kurang dan tidak lebih. Berikut komponen-komponen biaya
persediaan :
- Ordering Cost dan Procurement Cost
Ordering
cost dan procurement
cost adalah total biaya pemesanan dan pengadaan sehingga siap untuk
digunakan. Biaya ini mencakup biaya pengangkutan, pengumpulan, pemilikan,
penyusunan dan penempatan di gudang sampai hal-hal yang termasuk biaya
manajerial dan clerical yang berhubungan dengan pemesanan. Biasanya untuk
membedakannya adalah bahwa biaya pemesanan termasuk kedalam fixed
cost tidak tergantung pada jumlah barang yang dipesansedangkanprocurement
costadalahvariable cost.
- Holding CostdanCarrying Cost
Holding
cost atau carrying
cost timbul karena perusahaan menyimpan persediaan, biaya ini
merupakan biaya penyimpanan (secara fisik) disamping pajak dana asuransi barang
yang disimpan. Elemen yang penting dimana merupakan proporsi yang besar dari
biaya adalah opportunity cost dimana ada dana yang tertahan
dalam hal ini dimana akan lebih menguntungkan bila digunakan untuk kebutuhan
lainnya. Opportunity cost bergantung pada berapa jumlah barang
yang disimpan dan berapa lama.
- Storage Cost
Storage
cost timbul
apabila ada permintaan tetapi barangnya tidak tersedia, untuk barang-barang
tertentu pembeli diminta untuk menunda pembeliannya atau menunggu. Storage
cost muncul yaitu biaya ekstra untuk membuat lagi barang yang dipesan
juga berkurangnya good will konsumen, apabila pesanannya terlambat untuk
dipenuhi.
Tetapi untuk
bahan kebutuhan sehari-hari konsumen tidak dapat diminta untuk menunda
pembeliannya atau diminta untuk back order. Disini perusahaan akan kehilangan
langganan karena konsumen akan mencarit empat lain.
Dalam
masalah persediaan bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan adalah biaya-biaya yang
relevan yakni seluruh biaya yang timbul sehubungan dengan persediaan.
Model Economic
Order Quantity persediaan ini mengandung ciri-ciri :
-
Barang (bahan mentah) yang dipesan dan disimpan hanya satu macam sehingga dalam
simulasi ini akan dilakukan satu persatu untuk setiap barang secara otomatis.
-
Kebutuhan atau permintaannya per periode diketahui (tertentu).
-
Barang (bahanmentah) yang dipesan segera dapat dipenuhi dan tidak ada back
order.
Parameter yang
digunakandalam model economic order quantity adalah
K = ordering
cost per pesanan
A = jumlah
barang yang dibutuhkan dalam satu periode( misal 1 tahun)
C =
Procurement cost per unit barang yang dipesan
h = holding
cost per satuan nilai persediaan.
T = waktu
antara satu pesanan dengan lainnya.
Q = Economic
order quantity (EOQ)
Secara
grafis model persediaan ini sebagai berikut :
(model
persediaan sederhana)
Keterangan :
Sejumlah Q
unit barang yang dipesan secara periodik. Order point merupakan saat siklus
persediaan (inventory circle) dimana akan dimulai lagi jika yang lama berakhir
karena barang-barang yang dipesan segera dapat tersedia setiap siklus
persediaan mempunyai periode waktu selama T yang mana pemesanan kembali T
tergantung pada Q. lamanya T tergantung proporsi kebutuhan selama satu periode
(A) yang dapat dipenuhi oleh Q jadi
Sehingga
slope A dapat dipakai sebagai penunjuk jumlah persediaan dari waktu ke waktu dengan
melihat garis-garis lurus yang memiliki slope tersebut tersebut karena barang
yang dipesan diasumsikan segera tersedia, maka setiap m siklus dapat dilukiskan
dalam bentuk segitiga dengan tinggi Q dan alas T.
Tujuan model
ini adalah untuk menentukan jumlah setiap kali pesanan sehingga total annual
cost dapat dimininumkan.
Ordering
Cost = (Ak)/Q
Holding Cost
= hc
Procurement
Cost = AC
Total Annual
Cost = Ordering
Cost + Holding Cost + Procurement Cost
Total Annual
Cost (TC) = (Ak)/Q + hCQ/2 + AC
Tujuan model ini adalah untuk memilih Q yang
mengandung semua biaya di atas dengan serendah-rendahnya. Tetapi yang perlu
diperhatikan hanyalah biaya yang relevan saja. Biaya yang ketiga yaitu AC dapat
diabaikan karena biaya tersebut tanpa tergantung pada frekwensipemesanan.Karenaitupersediaanmenjadi
:
Minimumkan(TC)
=Ak/Q + hcQ/2
Dengan TC
adalah total biaya yang relevanatau total relevan annual cost.
Dalam mencari persamaan optimal ini persamaan TC
merupakan fungsi tujuan dimana besarnya TC merupakan fungsi tujuan yang
besarnya tergantung pada besarnya order quantity atau Q yang dipilih TC
dinyatakan secara grafis dengan sumber tegak mewakili annual cost dan Q pada
sumbu datar.
Penurunanpersamaan
TC untukmenghasilkan nilai minimum didapatkan hasil :
Q= Q
= economic order quantity
Jika Q
ditemukan maka waktu pemesanan dapat dihitung dengan rumus :
Jadi
terjawab berapa dan kapan pemesanan harus dilakukan agar biaya yang dikeluarkan
minimum.
F. KERANGKA
BERFIKIR
G.
METODE PENELITIAN
- Data dan Variabel Penelitian
Variabel
penelitian yang dinilai dalam penelitian ini meliputi :
- K = ordering cost per pesanan
- A = jumlah barang yang dibutuhkan dalam satu periode( misal 1 tahun)
- C = Procurement cost per unit barang yang dipesan
- h = holding cost per satuan nilai persediaan.
- T = waktu antara satu pesanan dengan lainnya.
- Q = Economic order quantity (EOQ)
Menurut
jenisnya maka data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer
dan data sekunder.
- Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, yaitu dengan melakukan wawancara terhadap perusahaan yang didatangi yang dijadikan sample tesis ini.
- Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari buku-buku literatur, jurnal, dokumen-dokumen, laporan dan lain lain.
- Metode Pengumpulan Data
Dalam
penelitian ini untuk mendapatkan data data yang diperlukan penulis menggunakan
beberapa metode pengumpulan data sebagai berikut :
Studi
Pustaka
Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara
mempelajari referensi berupa dokumen/berkas dan mengumpulkan data yang
berkenaan dengan persediaan barang.
Observasi
Teknik
pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung ke perusahaan yang
menggunakan persediaan untuk memenuhi kebutuhan produknya.
Wawancara
Teknik
pengumpulan data dengan percakapan langsung dengan tujuan-tujuan tertentu
dengan menggunakan format tanya jawab.
- Metode Pengembangan Perangkat Lunak
Dalam
pengembangan perangkat lunak pada tesis ini menggunakan metode waterfall, yaitu
sebuah metode pengembangan software yang bersifat sekuensial dan terdiri dari 5
tahap yang saling terkait dan mempengaruhi seperti terlihat pada gambar 6
berikut.
Pengembangan
Software Metode Waterfall
- Analisa kebutuhan. Merupakan tahap pertama yang menjadi dasar proses pembuatan software selanjutnya. Kelancaran proses pembuatan software secara keseluruhan dan kelengkapan fitur software yang dihasilkan sangat tergantung pada hasil analisa kebutuhan ini. Untuk memperoleh informasi tentang proses bisnis dan kebutuhan perusahaan, pada tahap ini dilakukan wawancara, diskusi dan survey.
- Desain sistem. Merupakan tahap penyusunan proses, data, aliran proses dan hubungan antar data yang paling optimal untuk menjalankan proses bisnis dan memenuhi kebutuhan perusahaan sesuai dengan hasil analisa kebutuhan.
- Penulisan kode program. Merupakan tahap penerjemahan desain sistem yang telah dibuat ke dalam bentuk perintah-perintah yang dimengerti komputer dengan mempergunakan bahasa pemrograman, middleware dan database tertentu di atas platform yang menjadi standar perusahaan.
- Pengujian program. Pengujian software dilakukan untuk memastikan bahwa software yang dibuat telah sesuai dengan desainnya dan semua fungsi dapat dipergunakan dengan baik tanpa ada kesalahan.
- Penerapan program. Merupakan tahap dimana penerapkan software yang telah selesai dibuat dan diuji ke dalam lingkungan Teknologi Informasi perusahaan dan memberikan pelatihan kepada pengguna di perusahaan.
Teknik
Pengolahan Data
Pengolahan
data dilakukan dengan mengunakan metode statistik deskriptif untuk
membandingkan pendekatan sistem dengan data.
A.
JADWAL PENELITIAN
NO
|
Waktu
|
Bulan 1
|
Bulan 2
|
||||||
Kegiatan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
1
|
Kebutuhan
sistem
|
x
|
x
|
x
|
|||||
2
|
Design
sistem
|
x
|
x
|
x
|
|||||
3
|
Penulisan
Kode Program
|
x
|
x
|
x
|
|||||
4
|
Pengujian
Program
|
x
|
x
|
||||||
5
|
Penerapan
Program
|
x
|
|||||||
B.
DAFTAR PUSTAKA
- Andrew Caplin and John Leahy, “Economic Theory and the World of Practice: A Celebration of the (S,s) Model“, Journal of Economic Perspectives, Winter 2010, V 24, N 1
- Hamdy A. Taha, Operations Research: An Introduction, Prentice Hall; 9th. Edition, 2011
- Hansen, J. V., & Hill, N. C. (1989). Control and audit of electronic data interchange. MIS Quarterly, 403–413.
- Hax, AC and Candea, D. (1984), Production and Operations Management, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, NJ, pp. 135
Komentar
Posting Komentar